Di Baumata, Kami Menanam Harapan

Anggota Arisan Jurnalis NTT

INITIMUR.ID, Kupang | Mentari mulai beranjak ke sebelah barat, ketika satu persatu kendaraan roda dua memasuki halaman rumah saya yang sempit dan sederhana.

Sesaat kemudian, tawa renyah mulai terdengar dari samping rumah, di bawah naungan pohon Sawo dan Klengkeng yang enggan berbuah.

Bacaan Lainnya

“Saya hanya butuh daunnya yang rindang. Hawa Kupang lumayan panas, sehingga saya butuh pohon berdaun rindang. Kalau buahnya, saya bisa beli di pasar atau di supermarket, tapi saya tidak bisa membeli hawa yang sejuk,” jawab saya, ketika ada teman yang bertanya, kenapa pohon yang enggan berbuah meski sudah tiba waktunya itu, saya biarkan betumbuh dengan riang.

Di bawah dua pohon berdaun rindang yang ada di samping rumah sederhana saya ini, kemudian lahir aneka gagasan, sebagai jawaban atas pertanyaan, “Untuk apa kita berkumpul hari ini?”

Arisan. Itulah wadah yang kami sepakati bersama, ketika niat hati untuk sering bersua terlontar dari beberapa teman, seusai dari kegiatan yang kami ikuti di Kantor Bahasa NTT, beberapa pekan yang telah lewat.

Maka, pada 25 Mei 2025, terjadilah jumpa pertama, setelah dua minggu sebelumnya beberapa orang dari kami sempat berkumpul untuk merancang segala sesuatunya demi kelancaran arisan perdana ini.

Sebagai tuan rumah, saya berusaha melakukan yang terbaik, dengan harapan, kesan pertama yang tertinggal akan menghadirkan rindu di dalam benak untuk kembali bersua pada pertemuan berikutnya.

Suguhan kopi dan teh ditemani pisang rebus plus sambal ikan kering yang disediakan istri rupanya cukup menggugah selera makan 16 anggota arisan yang hadir pada pertemuan perdana kami kali ini. Sehingga suasana diskusi pun terasa semakin semarak.

“Ini bukan hanya tempat untuk setor uang arisan lalu pulang. Kalau hanya sekadar itu, kita semua tentu sudah punya banyak arisan di tempat lain. Perjumpaan kita dalam kelompok arisan ini harus punya warna yang berbeda dengan arisan-arisan kita yang lain. Arisan ini akan menjadi rumah berpikir bagi kita para jurnalis,” ujar Gusti Rikarno, jurnalis Cakrawala NTT yang didaulat sebagai Ketua Arisan.

Menurut Gusti, pertemuan bulanan ini diharapkan menjadi ruang diskusi yang hangat dan produktif.

Para jurnalis bisa saling bertukar pikiran, menggagas ide-ide liputan yang berdampak, hingga mendiskusikan tantangan profesi secara lebih terbuka.

“Di sini, kita bisa melepaskan penat, sambil tetap memantik ide-ide jurnalistik yang segar. Ini bukan forum formal, tapi justru di sinilah letak kekuatannya,” ungkap Gusti sembari tersenyum sumringah.

Dukungan terhadap terbentuknya wadah ini pun datang dari sejumlah jurnalis senior.

Anton Taolin, salah satu jurnalis senior, memandang pertemuan ini sebagai bentuk nyata dari semangat kolegialitas di antara para pewarta.

“Kadang kita terlalu sibuk mengejar berita, lalu melupakan pentingnya berhenti sejenak untuk saling mendengar. Ini forum yang luar biasa. Kita perlu teruskan,” komentar Anton dengan sikap kebapaan.

Senada dengan itu, Frans Pati Herin, jurnalis Kompas yang juga dikenal sebagai penulis buku, mengapresiasi terbentuknya wadah ini sebagai oase bagi para jurnalis.

“Komunitas ini bisa menjadi tempat menyegarkan semangat, dan menjadi ruang refleksi bersama. Kita bisa membicarakan hal-hal penting dalam profesi kita dengan santai, tapi tetap substansial,” ujar Frans, yang juga akan menjadi tuan rumah pada pertemuan selanjutnya.

Semua sepakat, Arisan Jurnalis NTT bukan semata forum sosial, melainkan juga sarana untuk meneguhkan nilai-nilai kebersamaan dan komitmen terhadap kualitas jurnalistik.

Di tengah dunia yang serba cepat dan kompetitif, langkah kecil ini menjadi pengingat akan pentingnya kembali pada akar seperti saling berbagi, berdiskusi, dan meneguhkan.

Seperti kata Anton Taolin, “Kadang ide-ide besar lahir dari ruang-ruang kecil dan santai seperti ini. Mari jaga semangatnya.”

Perlu diketahui, pertemuan kedua yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 29 Juni 2025, akan dilangsungkan di kediaman jurnalis Kompas, Frans Pati Herin, di Kelurahan Belo.

Menariknya, pertemuan kedua ini akan diisi dengan bedah buku karya Frans sendiri oleh para anggota arisan, sebelum kemudian dilanjutkan dengan sesi arisan seperti biasa.

Para anggota menganggap bedah buku ini sebagai bentuk pengayaan wacana dan intelektualitas di kalangan jurnalis.

“Kita ingin menjadikan kegiatan ini sebagai ruang literasi juga. Kita belajar dari karya teman sendiri, dan itu menjadi sumber inspirasi bagi semua,” ujar wartawan Voxntt.com, Ronis Natom.

Pernyataan Ronis pun disambut dengan gembira oleh pemilik media Likurai, Yulius Seran, juga teman-teman yang lain, “Sepakat“.

Senja hampir hilang, saat para pemungut kata itu satu persatu beranjak pulang. Di bawah pohon Sawo dan Klengkeng, saya kembali menghitung uang arisan yang baru saja diserahkan. Jumlahnya memang tidak seberapa. Tapi hati saya berbunga.

Arisan ini bukan hanya soal uang, tetapi terutama tentang hati yang mau berbagi, juga tentang perasaan sebagai sahabat dan saudara. Di tempat ini, kami telah menanam harapan. Harapan untuk bertumbuh bersama, saling menguatkan, saling berbagi, dan saling membesarkan. Semoga harapan ini menghasilkan buah berlimpah.***

Joe Radha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *