INITIMUR.ID, Kupang | Lampu-lampu kota di sekitar Gedung Sasando, tempat Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) berkantor, telah bernyala terang. Senja baru saja berlalu, ketika Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Provinsi NTT, Viktor Manek, selaku ketua panitia membacakan “Laporan Pelaksanaan Launching One Village One Product (OVOP), Gerakan Beli Produk NTT dan Penggunaan Kartu Kredit Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur”, di atas panggung yang dibangun persis di depan Gedung Sasando, pada Selasa, 27 Mei 2025.
“Dari ladang dan laut ke pasar. Dari hamparan tanah hingga kedalaman laut, anugerah Tuhan dikumpulkan dan dipersembahkan di pasar. Pasar adalah panggung, tempat hasil bumi dan laut menari dalam warna, aroma, dan citarasa, mendetakkan denyut ekonomi dan nadi kehidupan setiap hari,” lantang terdengar suara Kadis asal Malaka tersebut membuka laporan panitia dengan pilihan kata yang indah.
Di hadapan Gubernur Melki Laka Lena dan Wagub Johni Asadoma, beserta Forkompimda yang hadir pada acara Launching One Village One Product, Gerakan Beli Produk NTT dan Peresmian Penggunaan Kartu Kredit Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur tersebut, Viktor Manek melaporkan bahwa launching OVOP ini bukan sekadar peluncuran produk, melainkan sebuah ekspresi rasa dan karya.
“OVOP adalah wujud martabat diri, di mana potensi lokal, kemampuan beradaptasi, dan kerja keras para pelaku usaha terekspresi dalam satu produk yang menggambarkan kebanggaan dan keunikan kita,” terang Viktor Manek.
Karena itu, lanjut Viktor, “Produk-produk lokus OVOP yang ditampilkan dalam kegiatan launching ini diarak dengan meriah dengan tarian daerah yang memukau, dan dihadirkan dengan busana tenunan karya intelektual perempuan-perempuan hebat NTT, untuk dipersembahkan di hadapan Bapak Gubernur, Wakil Gubernur, unsur FORKOPIMDA, Konsul Jepang, Konsulado RDTL, Bapak Sekda, dan kita semua untuk disaksikan bersama”.
Viktor Manek juga melaporkan bahwa pada kesempatan itu ditampilkan 44 produk unggulan dari desa/kelurahan lokus OVOP.
“Acara ini dihadiri oleh Walikota dan Bupati Kupang, Ibu Bupati Sumba Barat Daya, serta dihadiri oleh para Kepala Desa/Lurah lokus usaha dari 22 Kabupaten/Kota. Selain itu, acara ini juga disambut dengan antusias oleh 190 UMKM dan PKL yang dengan semangat menyediakan 1000 porsi aneka makanan untuk dinikmati pengunjung secara gratis,” bebernya.
NTT yang Kaya dan Optimisme Laka Lena
Mengawali sambutannya dalam kegiatan tersebut, Gubernur NTT, Melki Laka Lena, kembali menegaskan visi pembangunan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2025-2029 (masa kepemimpinan Melki-Johni) yang menjadi bingkai sekaligus kompas pembangunan NTT selama lima tahun ke depan.
“Visi kita adalah menjadikan NTT sebagai provinsi yang maju, sehat, cerdas, sejahtera, dan berkelanjutan. Ini bukan sekadar kata-kata, tetapi adalah komitmen nyata yang akan kita wujudkan bersama melalui lima misi dan tujuh pilar,” tegas manta Wakil Ketua Komisi IX DPR RI itu.
Di tengah antusiasme utusan dari desa-desa yang menampilkan produk mereka, Laka Lena menawarkan mimpi dan memantik api harapan akan masa depan NTT yang lebih baik dengan menghidupkan UMKM di setiap desa melalui program OVOP ini.
“OVOP bukan sekadar satu desa satu produk. Lebih dari itu, OVOP adalah sebuah gerakan yang mengusung transformasi sosial, ekonomi, dan budaya. Setiap desa didorong untuk tidak hanya mengenali potensi lokal yang dimilikinya, tetapi juga mengembangkannya dengan semangat inovasi dan kearifan budaya yang diwariskan oleh nenek moyang kita. Kita harus percaya bahwa setiap desa memiliki keunggulan yang dapat diolah dan dipasarkan ke seluruh dunia,“ terang Laka Lena.

Gubernur yang dikenal rendah hati dan sangat merakyat itu menjelaskan bahwa spirit OVOP dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa NTT adalah tanah yang kaya, tanah yang penuh dengan potensi luar biasa.
“Dari sabana yang luas hingga bebatuan yang keras, tersembunyi kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Potensi peternakan, pertanian, dan energi baru terbarukan yang sangat besar ada di tanah ini. Tidak hanya itu, gugusan Pulau Flores dan tanah Lamaholot menyimpan potensi pariwisata, perkebunan, serta energi baru terbarukan seperti geothermal dan arus laut, yang tak tertandingi di tempat lain di dunia,” bebernya.
Ia menyebut, NTT memiliki sekian banyak potensi, namun, potensi yang ada belum dimaksimalkan. Kata dia, “Kita sering kali lebih memilih untuk meninggalkan potensi yang jelas ada di desa-desa kita dan justru mengejar peluang yang masih belum pasti di tempat lain. Kita telah terjebak dalam keyakinan salah bahwa NTT adalah daerah yang miskin, sebuah identitas yang telah tertanam begitu dalam, seolah itu adalah kenyataan yang tak bisa diubah”.
Karena itu, Laka Lena mengajak masyarakat NTT untuk mengubah pandangan itu. “NTT adalah tanah yang kaya, dan sudah saatnya kita semua bersama-sama mengangkat potensi ini ke arah yang lebih baik, lebih sejahtera, dan lebih berdaya saing. Program OVOP adalah wujud nyata dari komitmen kita untuk mendorong pertumbuhan ekonomi desa yang berbasis pada potensi lokal. Ini bukan sekadar tentang produk. OVOP adalah gerakan yang menggugah semangat kebanggaan, identitas, martabat, dan kemandirian masyarakat desa di NTT,” tegasnya.
Melalui OVOP, Laka Lena mengajak setiap desa untuk tidak hanya mengenali potensi terbaik yang dimilikinya, tetapi juga mengolahnya secara kreatif, berdaya saing, dan memperluas jangkauan pasarnya hingga ke tingkat nasional dan bahkan global.
“Produk lokal kita akan dikembangkan sesuai dengan standar pasar yang ada, teruji, dan terdaftar, lalu diberi nilai tambah melalui inovasi dan teknologi, serta didorong untuk memasuki pasar yang lebih luas. Dengan OVOP, kita ingin memastikan bahwa desa bukan hanya sekadar tempat tinggal, tetapi juga menjadi pusat produksi, inovasi, dan kebangkitan ekonomi rakyat,”ucap Wakil Ketua Umum DPP Golkar NTT itu.
Gerakan Beli Produk NTT
Pada kesempatan tersebut, Laka Lena mengungkapkan bahwa seluruh masyarakat NTT tentu ingin agar hasil bumi dan karya tangannyadihargai tinggi, dibeli secara adil, dan dikenal luas.
“Untuk tujuan itu, OVOP menjadi landasan Gerakan Beli Produk NTT dan gerakan besar untuk pergerakan ekonomi desa di NTT. OVOP adalah titik di mana kita semua mulai sadar bahwa NTT memiliki kekuatan ekonomi untuk bangkit, mengejar ketertinggalan, dan meraih martabat yang lebih tinggi. Oleh karena itu, saya mengajak seluruh elemen: pemerintah kabupaten/kota, perangkat desa, BUMDes, UMKM, PKK, kelompok tani, pemuda, mitra swasta, serta Koperasi Desa Merah Putih yang saat ini sedang dibentuk di seluruh desa, untuk bersama-sama, dengan sepenuh hati, menghidupkan semangat OVOP ini,” pintanya.
Menurut Laka Lena, tidak ada yang terlalu kecil jika dikerjakan dengan cinta dan tekad. Tidak ada desa yang akan tertinggal jika semua bergerak bersama, dengan kekuatan dan semangat yang sama.
“Selain menggali potensi dan mendorong masyarakat untuk berwirausaha, saya juga ingin mengingatkan seluruh elaku usaha mikro, kecil, dan menengah, BUMDes, serta koperasi di NTT untuk selalu menjaga konsistensi dalam produk, kualitas, dan kontinuitas produksi. Apa yang kita hasilkan bukan hanya sekadar barang, tetapi juga mencerminkan komitmen, integritas, dan martabat kita sebagai pelaku usaha,” terangnya.
Kualitas dan kontinuitas produk kita, tambah Laka Lena, adalah cerminan dari prinsip-prinsip yang kita pegang teguh, yakni kejujuran, kerja keras, dan dedikasi.
“Ketika produk kita dihasilkan dengan standar yang tinggi, itu berarti kita menghargai setiap usaha, setiap langkah yang telah kita tempuh, dan setiap orang yang terlibat dalam perjalanan ini,” imbuhnya.
Di ujung arahannya, Laka Lena mencoba mengetuk hati seluruh masyarakat NTT untuk bersatu, berjuang dan bertumbuh bersama demi NTT yang lebih baik.
“Kita sedang memulai langkah besar menuju kebangkitan ekonomi NTT, yang dimulai dari desa. Untuk itu, mari kita bersatu dalam menjaga kejujuran, membangun kepercayaan, dan mempererat hubungan baik antar pelaku usaha. Kepercayaan yang telah kita bangun adalah aset terbesar kita. Jangan biarkan kepercayaan itu hancur demi keuntungan sesaat, karena untuk memulihkan kepercayaan yang tercemar, kita akan membutuhkan waktu, tenaga, dan usaha yang lebih besar. Untuk itu, mari kita gelorakan semangat OVOP: Satu Desa, Satu Produk Unggulan – Dari NTT untuk Indonesia!” tutupnya.
Lagu “Rumah Kita” ciptaan Ian Antono dan dipopulerkan oleh grup band lawas God Bless, secara khusus diminta oleh Gubernur Melki untuk dinyanyikan bersama ketkika mengakhiri sambutannya.
“Lebih baik di sini, rumah kita sendiri, segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa, semuanya ada di sini … ” demikian kira-kira penggalan liriknya.
Lirik lagu yang terlantun itu semoga mengalun menembusi ruang hati, menjadi pengingat bahwa tak ada yang lebih membahagiakan selain berada di rumah dan menata rumah itu menjadi indah. NTT adalah rumah kita. Ayo Bangun NTT!!***
